https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/issue/feedJurnal Pertanian Terpadu2026-01-18T20:38:44+07:00Dr. Suharlina, S.Pt., M.Sisuharlina@stiperkutim.ac.idOpen Journal Systems<p>Jurnal Pertanian Terpadu memuat hasil penelitian bidang pertanian yang mencakup bidang agroteknologi, kehutanan, kelautan, teknik pertanian, teknologi pertanian, peternakan, budidaya perikanan, dan agribisnis. </p>https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/626Determinasi Faktor Produksi terhadap Produktivitas Padi Sawah di Wilayah Perbatasan: Studi Empiris di Desa Motaulun, Malaka Barat2026-01-18T20:38:44+07:00Maria Ingria Klauminggrid382@gmail.comJonathan Ebed Koehuanjekoehuan@gmail.comArlindo U. S. Kettearlindo020304kette@gmail.comSusana M. Suratamasuratama.susana@gmail.comJemmy J. S. Dethanjohnson@ukaw.ac.id<p>Desa Motaulun di Kecamatan Malaka Barat merupakan sentra produksi padi sawah di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Namun, produktivitas padi di desa ini belum optimal meskipun potensi lahan dan iklim mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi seperti luas lahan, jumlah benih, pupuk, tenaga kerja, dan pengalaman usahatani terhadap hasil panen padi sawah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 41 petani padi sawah yang dipilih secara purposive, dengan analisis data menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh faktor produksi terhadap hasil padi. Data dikumpulkan dari 41 petani melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan, benih, dan pupuk berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi, sementara tenaga kerja dan pengalaman usahatani tidak signifikan. Model regresi memiliki nilai determinasi (R²) sebesar 0,741, yang berarti model mampu menjelaskan 74,1% variasi produksi padi. Temuan ini memberikan dasar empiris penting bagi penyuluh dan pembuat kebijakan dalam menyusun strategi peningkatan produktivitas pertanian berbasis bukti, khususnya di wilayah perdesaan dan perbatasan dengan karakteristik sumber daya terbatas.</p>2025-12-22T10:29:03+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/639Analisis Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi Konsumsi dan Penangkar Benih di Desa Pelanglor Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi2026-01-18T20:38:44+07:00Ernik Ernawatiernikernawati69@gmail.comMubarokah Mubarokahmubarokah@upnjatim.ac.idHamidah Hendrarinimubarokah@upnjatim.ac.id<p>Kabupaten Ngawi penyumbang pangan padi Jawa Timur sebesar 50% dengan produksi sebesar 778 ribu ton. Kebutuhan benih padi terus meningkat seiring dengan peningkatan luas tanam dengan kebutuhan benih padi per hektar berkisar antara 25-29 kg/ha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usatani padi konsumsi dan penangkar benih, serta faktor yang mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan berusahatani padi konsumsi maupun penangkar benih. Penelitian dilakukan di Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, menggunakan metode survei dengan 92 responden yang terdiri atas 85 petani padi konsumsi dan 7 petani penangkar benih. Analisis data meliputi analisis pendapatan dan <em>Structural Equation Modeling–Partial Least Squares</em> (SEM-PLS). pendapatan usahatani padi penangkar benih sebesar Rp36.640.080,00/ha lebih tinggi dibandingkan pendapatan usahatani padi konsumsi sebesar Rp26.259.133,00/ha. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa keputusan petani dalam memilih usahatani padi konsumsi dipengaruhi secara signifikan oleh teknik budidaya, pendapatan, dan kepercayaan diri, sedangkan keputusan memilih usahatani padi penangkar benih dipengaruhi oleh pendapatan, modal, dan kepercayaan diri. Hasil ini mengindikasikan bahwa usahatani padi penangkar benih lebih menguntungkan secara ekonomi, namun penerapannya masih dipengaruhi oleh faktor permodalan dan keyakinan petani, sehingga diperlukan dukungan penyuluhan dan kebijakan yang mendorong pengembangan penangkaran benih padi di tingkat petani</p>2025-12-22T18:21:04+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/646Analisis Efektivitas Kelompok Dalam Meningkatkan Produksi Padi Di Desa Leran Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro2026-01-18T20:38:44+07:00Ana Safira Putri21024010007@student.upnjatim.ac.idTeguh Soedartoteguh_soedarto@upnjatim.ac.idTaufik Setyaditasetya@gmail.com<p>Kelompok tani memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggotanya, serta mendorong pertanian yang inovatif. Namun, efektivitas kelompok tani dapat bervariasi tergantung pada produktivitas dan kepuasan anggota. Di Desa Leran, masih terdapat hambatan dalam perkembangan kelompok tani. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas kelompok tani dalam meningkatkan produksi di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Dengan menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dengan 90 responden petani dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, penelitian ini diharaplakan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang efektivitas kelompok tani di Desa Leran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor karakteristik kelompok, faktor pekerjaan atau fungsi tugas, dan faktor eksternal kelompok memiliki peran penting dalam efektivitas kelompok tani di Desa Leran. Faktor karakteristik kelompok memiliki rata-rata nilai yang tinggi (40,33), menunjukkan karakteristik kelompok tani yang cukup baik. Faktor pekerjaan atau fungsi tugas berjalan dengan baik, dengan rata-rata nilai 78,87. Faktor eksternal kelompok, seperti dukungan kepala desa dan masyarakat, juga berperan penting dengan rata-rata nilai 39,58. Hasil analisis yaitu efektivitas kelompok tani di Desa Leran memiliki rata-rata 26,54 dengan standar deviasi 3,27, menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi dan merata. Kelompok tani di Desa Leran berpotensi berkembang menjadi lembaga sosial dan ekonomi di tingkat desa dan dapat menjadi mitra dalam program pembangunan pertanian. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi dasar kebijakan dan intervensi praktis untuk meningkatkan kinerja kelompok tani. Kelompok tani yang efektif dapat menjadi contoh bagi kelompok lain dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani.</p>2025-12-27T16:11:12+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/648Dinamika Gejala Infeksi Awal dan Penurunan Viabilitas Formulasi Kering Metarhizium anisopliae Selama Penyimpanan Tropis2026-01-18T20:38:44+07:00Nina Jeny Lapinanggalanina0677@gmail.comYosefus F. da Lopezyosdapisco@gmail.comJacqualine Arriani Bungajacqualinebunga@gmail.comRupa Mateusmatheusrupa@yahoo.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas formulasi bubuk kering <em>Metarhizium anisopliae</em> terhadap mortalitas kumulatif dan progresi gejala infeksi <em>Cylas formicarius</em> setelah penyimpanan dalam durasi berbeda di suhu ruang tropis. Uji bioefikasi dilakukan dengan enam perlakuan lama simpan (1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan) serta pengamatan mortalitas kumulatif dan gejala infeksi visual selama 120 jam pasca inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang disimpan selama 1 bulan (P1) menghasilkan mortalitas kumulatif tertinggi sebesar 10% dalam waktu 120 jam, diikuti P2 (7%), P3 (5%), P4 (4%), P5 (3%), dan terendah P6 (2%). Progressi gejala infeksi mengikuti pola infeksi khas jamur entomopatogen, dimulai dari tidak ada perubahan pada 0–24 jam, perubahan warna tubuh pada 24–48 jam, tubuh lunak pada 48–72 jam, tubuh menghitam pada 72–96 jam, dan mumifikasi total pada 96–120 jam. Hasil analisis menggunakan grafik dual-axis menunjukkan korelasi yang kuat antara progresi gejala infeksi dan mortalitas kumulatif, di mana lonjakan mortalitas signifikan terjadi pada fase tubuh menghitam hingga mumifikasi. Penelitian ini membuktikan bahwa lama penyimpanan mempengaruhi viabilitas dan daya patogenik formulasi <em>M. anisopliae</em>, yang berdampak langsung terhadap kinetika infeksi dan tingkat mortalitas <em>C. formicarius</em>. Disarankan penggunaan formulasi kering dengan lama simpan maksimal 1–2 bulan untuk memperoleh efektivitas pengendalian hayati yang optimal.</p>2025-12-28T08:18:02+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/645Analisis Komparasi Pendapatan Usahatani Bawang Merah Semi Organik dan Anorganik di Desa Sukorejo Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk2026-01-18T20:38:44+07:00Isfia Diana Putriisfiadiana@gmail.comNoor Rizkiyahnoor.rizkiyah.agribis@upnjatim.ac.idNisa Hafi Idhoh Fitriananisa.hafi.agribis@upnjatim.ac.id<p>Tujuan dari penelitian ini untuk menguji dan mengidentifikasi kesenjangan pendapatan antara budidaya bawang merah semi organik dan anorganik yang ada di Desa Sukorejo Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Penelitian dilaksanakan pada November – Desember 2024. Sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin dari populasi 298 petani didapatkan 75 sampel petani yang selanjutnya data diperhitungkan ulang melalui <em>Proportional Stratified Random Sampling</em>, yang menghasilkan sampel sebanyak 15 petani semi organik dan 60 petani anorganik. Metode analisis data menggunakan Analisis Biaya dan Pendapatan. Rata-rata dari produksi, harga serta pendapatan yang didapatkan dari bawang merah semi organik yaitu 15.986 Kg/Ha, Rp. 11.097, dan Rp. 106.559.833/Ha, sedangkan pada bawang merah anorganik yaitu sebesar 12.321 Kg/Ha, Rp. 10.726, dan Rp. 74.443.365/Ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi, harga jual, dan pendapatan dari usahatani bawang merah dengan metode semi organik lebih tinggi dibandingkan usahatani bawang merah dengan metode anorganik. Hal ini terjadi karena petani bawang merah semi organik memperoleh penerimaan yang lebih tinggi dibanding dengan petani bawang merah anorganik, tetapi pengeluaran biaya pada petani bawang merah anorganik lebih tinggi dibanding dengan petani bawang merah semi organik. Sehingga pendapatan yang diterima dari petani bawang merah semi organik jauh lebih tinggi dibanding petani bawang merah anorganik.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/652Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Garam Di Kabupaten Sampang Dengan Pendekatan FCS Dan FIES2026-01-18T20:38:44+07:00Ainul Yaqinrisqisetiawan2014@gmail.comTeguh Soedartoteguh@upnjatim.ac.idHamidah Hendrarinihamidah@upnjatim.ac.id<p>Petani garam penggarap di wilayah pesisir seperti Kabupaten Sampang rentan mengalami ketahanan pangan rendah akibat ketergantungan pada musim produksi dan akses pangan yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani garam dan menganalisis faktor - faktor sosial ekonomi yang memengaruhinya. Penelitian dilakukan pada 100 responden petani garam penggarap di Kecamatan Pangarengan, dengan pendekatan kuantitatif melalui dua indikator utama: <em>Food Consumption Score</em> (FCS) dan <em>Food Insecurity Experience Scale</em> (FIES). Analisis data menggunakan regresi ordinal untuk mengidentifikasi variabel signifikan yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan FCS, 61% rumah tangga berada pada kategori <em>borderline</em> dan 39% <em>acceptable</em>, sedangkan berdasarkan FIES, 92% tergolong <em>food secure</em>, 6% <em>moderately food insecure</em>, dan 2% <em>severely food insecure</em>. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap FCS adalah pendidikan, usia, pendapatan, dan jarak ke sumber air bersih. Sementara itu, untuk FIES, pendidikan dan usia menjadi faktor dominan. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi berbasis pendidikan dan akses infrastruktur dasar untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga petani garam secara berkelanjutan.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/670Pemanfaatkan Media Sosial dalam Pengembangan Agribisnis Hortikultura Kab. Tuban2026-01-18T20:38:44+07:00Maimunah Maimunahmaimunah75.mm@gmail.comKristiawan KristiawanKristiawan.usb@gmail.comAbdi Dewi SetyanaAbdidewi78@yahoo.com<p>Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi semakin cepat dan merambah di semua bidang. E-commers dan media sosial dimanfaatkan bidang pertanian mulai dari hulu sampai hilir pada pengembangan agribisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana media sosial telah dimanfaatkan oleh petani hortikultura Kabupaten Tuban dalam mengembangkan usahanya. Responden penelitian ini adalah petani hortikultura di Kabupaten Tuban pada berbagai jenis tanaman yang diusahakan. Guna mendapatkan gambaran yang lengkap, penelitian menggunakan data primer dan sekunder yang diolah untuk mendapatkan gambaran dan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan data bahwa responden yang merupakan petani hortikultura telah semuanya memanfaatkan media sosial dalam kegiatannya sehari hari khususnya berkenaan dengan komunikasi maupun pengelolaan usahanya. Terdapat 1 – 4 media sosial yang digunakan oleh responden dalam sehari hari. Pemanfaatan media sosial sosial sebagian besar masih terbatas pada pemanfaatan mendapatkan informasi antar teman yang memiliki informasi.terkait penyediaan sarana prasarana budidaya, penanggulangan hama penyakit serta memasarkan produknya. Terkait dengan pemasaran, masih sedikit petani yang memanfaatkan media sebagai media memasarkan produknya. Produk lebih banyak dijual secara langsung atau dibeli pedagang besar. Pemanfaatan media sosial secara optimal untuk mendapatkan informasi, komunikasi, memperluas jaringan dan pemasaran akan memberikan dampak positif pagi pengembangan agribisnis serta memberi dampak peningkatan kesejahteraan petaninya.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/673Simpanan Karbon Tanah pada Lahan Sawah Irigasi, Sawah Tadah Hujan, dan Tegalan di Kecamatan SUB-DAS Tuntang Hulu2026-01-18T20:38:43+07:00Abner Darmawan Sigarabe17sgr@gmail.comYefta Audy Susetyo512021004@student.uksw.eduRosita Mustikasari512021004@student.uksw.eduBistok Hasiholan Simanjuntak512021004@student.uksw.eduAndree Wijaya Setiawan512021004@student.uksw.eduDina Banjarnahor512021004@student.uksw.edu<p>Simpanan karbon organik tanah berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Penelitian ini menganalisis simpanan karbon tanah pada tiga jenis lahan pertanian di Sub-DAS Tuntang Hulu, yaitu sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan tegalan. Kandungan karbon organik diukur menggunakan metode gravimetri, dan simpanan karbon total dihitung berdasarkan bobot isi tanah dan kedalaman 0–30 cm. Survei praktik budidaya dan wawancara petani dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap akumulasi karbon tanah. Hasil menunjukkan bahwa lahan tegalan memiliki simpanan karbon rata-rata tertinggi. Namun, hubungan antara praktik budidaya seperti pengembalian sisa tanaman, pengolahan tanah, pemupukan, dan kepemilikan ternak dengan kandungan karbon tidak menunjukkan signifikansi statistik. Praktik budidaya yang mendukung ketahanan cadangan karbon tanah secara berurutan adalah tegalan, sawah tadah hujan dan sawah irigasi.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/687Pertumbuhan dan Produksi Siratro (Macroptilium atropurpureum) Bermikoriza yang Diberi Mikroorganisme Lokal Pada Tanah Topsoil dan Tanah Overburden2026-01-18T20:38:43+07:00Muhammad Rizki Fadillahmuhammadfadillah@faperta.unmul.ac.idTaufan Purwokusumaning Darumuhammadfadillah@faperta.unmul.ac.idHamdi Mayuluhamdi_mayulu@faperta.unmul.ac.idApdila Safitrimuhammadfadillah@faperta.unmul.ac.idArdiansyah Ardiansyahmuhammadfadillah@faperta.unmul.ac.id<p>Upaya pengembangan peternakan di Kalimantan Timur dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan pasca tambang batu bara. Akan tetapi rendahnya Tingkat kesuburan tanah serta terbatasnya ketersediaan tanah topsoil sebagai tanah penutup pada lahan pasca tambang menjadi kendala yang harus diperhatikan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman tanaman penutup tanah bermikoriza dan pemberian pupuk hayati mikroorganisme lokal (MOL). Percobaan dilakukan dengan menanam benih leguminosa sitratro bermikoriza yang ditanam di atas tanah topsoil dan tanah overburden yang ditempatkan pada polybag ukuran 10 kg. setiap jenis tanah tersebut ditambahkan dengan mikroorganisme lokal (MOL) dengan konsentrasi 0 mL, 10 mL, 20 mL, dan 30 mL per liter air. Hasil percobaan menunjukkan bahwa faktor jenis tanah berpengaruh terhadap tinggi tanaman, namun faktor jenis tanah maupun faktor konsentrasi MOL berpengaruh terhadap berat segar tajuk dan berat kering tajuk tanaman, dan kolonisasi FMA pada akar tanaman, yang semakin tinggi konsentrasi MOL dapat menurunkan produksi tajuk tanaman. Kolonisasi akar tanaman oleh FMA dengan peningkatan konsentrasi MOL pada tanah topsoil menunjukkan pengaruh negatif, yang semakin tinggi konsentrasi MOL maka kolonisasi FMA pada akar tanaman semakin rendah. Sebaliknya, pada tanah overburden peningkatan konsentrasi MOL dapat meningkatkan kolonisasi FMA.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/642Analisis Karakteristik dan Peran Aktor dalam Rantai Pasok Pertanian Berkelanjutan di Indonesia2026-01-18T20:38:44+07:00Abigail Farren Limbongabigail.farren30@gmail.comBudi Harsantoabigail21002@mail.unpad.ac.id<p>Rantai pasok pertanian berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, namun implementasinya di Indonesia masih didominasi sistem konvensional yang bercirikan rantai distribusi panjang, lemahnya koordinasi antarpelaku, tingginya <em>food loss</em>, dan rendahnya posisi tawar petani. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan rantai pasok pertanian berkelanjutan belum sepenuhnya berbasis pada karakter dan peran aktor sebagai pelaku utama sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik, peran, dan interaksi aktor dalam rantai pasok pertanian berkelanjutan di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain eksploratif melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap petani dan kelompok tani yang telah menerapkan rantai pasok pertanian berkelanjutan di beberapa wilayah Indonesia. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tipologi utama aktor petani, yaitu innovator, petani <em>early adopter</em>, dan petani mitra, yang memiliki kapasitas dan tingkat kesiapan berbeda dalam mengadopsi praktik berkelanjutan. Diferensiasi peran aktor terbukti meningkatkan efisiensi koordinasi, memperkuat posisi tawar petani, mengurangi <em>food loss</em>, serta mendorong distribusi nilai tambah yang lebih adil. Pendekatan berbasis aktor ini menjadi kunci pengembangan rantai pasok pertanian berkelanjutan yang efektif dan adaptif.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/696Keanekaragaman Serangga pada Tiga Genotip Sorgum (Sorghum bicolor l.) Lokal Sumba Timur2026-01-18T20:38:43+07:00Gregorius Kevin Pratama512021011@student.uksw.eduRuth Meike Jayantiruth.jayanti@uksw.edu<p>Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis serangga yang terdapat pada tiga genotip sorgum lokal Sumba Timur, yaitu WH Mitting Nggangga, WH Rara Kadita, dan WH Mitting Tadda. Penelitian dilaksanakan di lahan Sains Technopark, Universitas Kristen Satya Wacana, pada Juni hingga November 2024. Metode yang digunakan bersifat eksploratif dengan pemasangan perangkap <em>yellow trap </em>secara sistematis untuk mengamati populasi dan peran serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ordo Hemiptera dan Diptera paling dominan, dengan genus <em>Bemisia sp. dan Musca sp</em>. sebagai hama utama. Jumlah serangga tertinggi ditemukan pada genotip WH Mitting Tadda (1257 individu), dan terendah pada WH Mitting Nggangga (1096 individu). Indeks keanekaragaman (H’) berada pada kategori sedang, yaitu antara 1,52–1,67, dan indeks dominansi tergolong sedang, antara 0,26–0,30. Serangga predator dan penyerbuk ditemukan dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan hama. Hasil ini menunjukkan bahwa keseimbangan ekosistem di lahan budidaya masih cukup stabil, namun memerlukan perhatian terhadap pengelolaan hama dan konservasi musuh alami agar produktivitas sorgum tetap optimal.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/711Analisis Kualitas Air Di Perairan Danau Waren, Tual2026-01-18T20:38:43+07:00Henny Fitrinawatihenny.fitrinawati@polikant.ac.idCipit Meyza Afdanafdancipit@gmail.comEndang Sri Utamisriutammie@gmail.com<p>Danau Taman Anggrek, atau Danau Waren, terletak di Kota Tual, Maluku, dan memiliki potensi menarik baik dibidang perikanan ataupun pariwisata. Kualitas air danau, yang berdampak pada fungsi ekologis dan kesehatan ekosistem, dipengaruhi oleh aktivitas manusia baik yang bersifat <em>autochthonous</em> ataupun <em>Allochthonous</em>. Kualitas air yang buruk, ditandai dengan rendahnya DO dan tingginya konsentrasi N dan P, dapat menyebabkan kematian massal ikan. Penyebab utama penurunan kualitas air adalah pencemaran yang menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Penelitian ini penting dilakukan untuk pemantauan kualitas air dan pemeliharaan keseimbangan ekosistem, serta sebagai dasar regulasi terkait pencemaran dan program restorasi untuk mencegah kerusakan ekosistem danau. Pengamatan dilakukan selama enam minggu di Danau Waren, Tual, dengan pengambilan sampel di lima stasiun berdasarkan letak inlet, outlet, dan tengah perairan. Parameter fisika seperti suhu, kecerahan, dan kecepatan arus serta parameter kimia lainnya diukur baik secara <em>in situ</em> maupun <em>ex situ</em>. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air di Danau Waren cukup baik, memenuhi standar PP RI No. 22 Tahun 2021 untuk kegiatan perikanan. Rentang nilai parameter fisika (suhu 30,9 - 31,25 <sup>o</sup>C; kecerahan 2 – 4 m; dan kecepatan arus 0,01 – 0,23 m/s) dan kimia (DO 5,2 – 5,8 mg/L; pH 7,46 – 8,13; nitrit dan nitrat masing-masing <0,1 mg/L; amonia <0,15 mg/L; TP <0,01 mg/L) berada di bawah ambang batas. Kondisi ini memungkinkan untuk dilakukan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya perairan untuk kegiatan perikanan dan wisata edukasi, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan konservasi ekosistem danau yang berkelanjutan.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/699Optimalisasi Desain dan Komunikasi Pemasaran melalui Platform E-Commerce Produk Bawang Merah Varietas Rubaru sebagai Komoditi Unggulan Pertanian Sumenep2026-01-18T20:38:43+07:00Anis Kurlianiskurli@wiraraja.ac.idImam Hidayatimamhidayat@wiraraja.ac.idDeny Feri Suharyantodhenz@wiraraja.ac.idAndika Priyas Prayogaandikapriyas@gmail.comAlan Nuril Mubinalannurilm014@gmail.comDeny Fardiansyah Putradeny@pens.ac.id<p>Kurangnya konsep desain yang unik dan komunikasi pemasaran efektif menyebabkan produk olahan komoditi unggulan pertanian bawang merah varietas Rubaru sulit bersaing dengan produk lainnya. Produsen dan pelaku usaha lokal belum mampu memaksimalkan desain kemasan produk, sebagai identitas/branding melalui platform e-commerce dan platform media sosial. Penelitian ini bertujuan mengoptimalisasi desain dan komunikasi pemasaran produk melalui pendekatan digital untuk meningkatkan daya saing dan jangkauan pasar. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatitf eksploratif dan pendekatan design thinking yang melibatakan tahapan empati, definisi masalah, ideasi, prototipe dan pengujian. Hasil penelitian menunjukkan penerapan desain kemasan menarik didukung narasi pemasaran berbasis storytelling, serta optimalisasi platform e-commerce secara strategis mampu meningkatkan visibilitas dan minat beli pelanggan terhadap produk olahan bawang merah varietas Rubaru. Kesimpulan dari penelitian ini integrasi desain komunikasi visual dan pemasaran berbasis digital pada platform e-commerce merupakan kunci utama dalam mengangkat potensi produk olahan komoditi unggulan pertanian untuk bersaing di pasar modern, sehingga membentuk citra baik, kemasan menarik dan informatif dalam meningkatkan dan menumbuhkan rasa kepercayaan pelanggan pada produk olahan bawang merah varietas Rubaru.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/689Aplikasi Modified Atmosphere Packaging (MAP) Berbasis Nitrogen terhadap Mutu Fisik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) selama Penyimpanan2026-01-18T20:38:43+07:00Sri Mutiarsrimutiar@unidha.ac.idDewi Arziyahsrimutiar@unidha.ac.idAnwar Kasimsrimutiar@unidha.ac.idRehulina Rehulinasrimutiar@unidha.ac.id<p>Kerusakan fisik dan fisiologis pascapanen Cabai merah (<em>Capsicum annuum L.</em>) dapat menyebabkan penurunan mutu serta memicu fluktuasi harga di pasar domestik. Oleh sebab itu, diperlukan teknologi pengemasan yang efektif untuk memperpanjang umur simpan sekaligus mempertahankan mutu cabai merah. Salah satu teknologi yang banyak diterapkan adalah <em>Modified Atmosphere Packaging</em> (MAP) berbasis nitrogen. Gas nitrogen (N₂) bersifat inert, tidak berbau, tidak berasa, serta mampu menggantikan oksigen untuk menghambat respirasi, oksidasi, dan perubahan warna produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pengemasan dengan nitrogen terhadap susut bobot, kadar air, dan warna cabai merah selama penyimpanan pada suhu ruang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu perlakuan kemasan (tanpa nitrogen dan dengan nitrogen) dan lama penyimpanan (0, 3, 6, 9, dan 12 hari), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, dan warna (nilai L, a, b). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabai merah yang dikemas dengan nitrogen menunjukkan susut bobot lebih lambat dibandingkan kontrol, yaitu hanya 3,62% pada hari ke-12 dibandingkan 4,29% tanpa nitrogen. Kadar air cabai merah relatif lebih stabil selama penyimpanan. Pengukuran nilai warna (L, a, b) pada cabai dengan kemasan nitrogen menunjukkan warna merah yang lebih cerah dan segar. Kesimpulan dari penelitian ini teknologi pengemasan cabai merah dengan nitrogen dapat mempertahankan mutu fisik cabai merah, berpotensi menekan kehilangan bobot pascapanen.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##https://www.ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/702Rekayasa Material Polimer Berbasis Limbah untuk Aplikasi di Industri Kimia2026-01-18T20:38:43+07:00Sri Risdhiyanti Nuswantarisririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idAbdullah Malik Islam Filardlisririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idMukhammad Himam Isomudinsririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idGita Mawadah Yuliannasririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idRahima Nilansarisririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idYasyfa Husnan Prahardikasririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idFadilah Puspita Sarisririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idMuhammad Syukron Lazimsririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idMuhammad Amyra Faizsririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idDawamul Khoirsririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.idDais Shiddiksririsdhiyantinuswa@lecturer.undip.ac.id<p>Pemanfaatan limbah biomassa sebagai filler pada material komposit polimer merupakan strategi berkelanjutan untuk meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan sekam padi dan ampas kopi sebagai filler biomassa terhadap sifat mekanik serta ketahanan dan kestabilan komposit berbasis polipropilena (PP). Komposit dibuat dengan variasi fraksi filler 10% dan 30%, kemudian diuji kekuatan tarik menggunakan standar ASTM serta diuji ketahanannya melalui perendaman dalam larutan NaOH, HCl, dan air. Perubahan dimensi panjang, lebar, dan berat dianalisis menggunakan metode ANOVA untuk mengetahui pengaruh perlakuan kimia dan parameter fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan fraksi filler hingga 30% cenderung meningkatkan kekuatan tarik dibandingkan fraksi 10%, meskipun seluruh spesimen masih menunjukkan karakteristik getas akibat ikatan antarmuka <em>filler</em> matriks yang belum optimal. Uji ketahanan menunjukkan bahwa jenis media perendaman berpengaruh signifikan terhadap kestabilan spesimen, sedangkan parameter fisik tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Potensi integrasi sekam padi dan ampas kopi sebagai filler komposit PP untuk aplikasi non struktural berbasis material ramah lingkungan.</p>2025-12-31T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##